BURHAN OWL

0 %
MUHAMMAD BURHANUDDIN RABBANI
Front-end Developer
Ui/UX Designer
  • Residence:
    Indonesia
  • City:
    Surabaya
  • Age:
    35
Indonesia
English
html
CSS
Photoshop
Photography
WordPress
Office
  • Adobe: Photoshop, Illustrator, inDesign, After Effect
  • Luminar
  • Multimedia: Vegas Pro,
  • Google: Spreadsheet, Data Studio, Script
  • Office: Excel, Word, Powerpoint
GENDERUWO
Sinema Indonesia • Horror • Satire

GENDERUWO

Tentang budaya Barat, budaya Timur, rasa malu, hamster, PowerPoint, dan sebuah film yang menguji batas kemampuan manusia untuk tetap optimistis.

Satu lagi bukti bahwa kita tidak harus selalu percaya pada apa yang dikatakan oleh orang tua.

Dulu, guru saya, guru ngaji saya, dan orang tua saya sering bilang kalau budaya Barat adalah budaya yang buruk dan merusak.

“Hati-hati dengan produk budaya Barat. Termasuk film Barat.”

Setelah saya dewasa, saya justru menonton produk budaya yang katanya “buruk dan merusak” ini. Salah satunya adalah serial Sex and the City.

Carrie Bradshaw dalam Sex and the City
Sex and the City • Image source: Ynet / Xnet

Saya tidak tahu dampak apa yang saya dapat dari mengikuti tontonan ini—selain kepingin jadi Manolo Blahnik sehingga dipuja perempuan.

Tapi teman-teman cewek saya yang juga mengikuti serial ini dengan setia justru meningkat cita rasanya: dalam berpakaian, dalam berbicara, dan mereka juga kepingin menjadi perempuan-perempuan independen seperti Carrie Bradshaw.

Dengan cerita, akting, dan penggarapan yang bagus, serial ini telah menginspirasi banyak orang.

👻 Lalu Datanglah Genderuwo

Terus terang, kebiasaan dicekoki tentang “bahaya” budaya Barat ini membuat kita jadi tidak sadar bahwa produk budaya Timur sering kali lebih berbahaya.

Lebih buruk dan lebih merusak.

Paling tidak, merusak perfilman Indonesia.

Lihat saja “film” Genderuwo.

Poster film Genderuwo
Poster film Genderuwo • Image source: The Movie Database — TMDB

Kata “film” saya kasih tanda kutip karena bisa saja Genderuwo dianggap sebagai sebuah film, kalau kita mau.

Tapi ini juga berarti kita harus menerima pendapat yang mengatakan bahwa jerawat adalah “makanan”.

Bisa saja, toh, dimakan?

Kalau makan jerawat sekilo, kan bisa kenyang juga.

Tapi pertanyaannya: how desperate are we?

(Tuh, kan. Pakai bahasa Barat lagi.)

Maaf, bukannya saya sengaja menyinggung SARA SECHAN—Suku, Agama, Ras, Sex, Cita Rasa, Hanamasa, dan Nationality. Mau dibilang garing, terserah.

Saya tahu saya tidak boleh membuat sebuah generalisasi. Tapi kenapa sih yang kebagian ke kita bukan orang-orang berbakat seperti Ruth Prawer Jhabvala atau Mira Nair?

Kenapa kita hanya kebagian orang-orang seperti KK Dheeraj yang membuat Genderuwo?

🎥 KK Dheeraj dan Anti-Tesis Segala Hal

KK Dheeraj adalah anti-tesis—ciiiah… pakai bahasa keren sekali-sekali—dari banyak hal.

Kalau ada yang bilang budaya malu adalah budaya Timur, orang ini menghancurkan anggapan itu.

Di Barat sana, kalau seorang sutradara tidak puas dan malu akan filmnya, dia boleh mengajukan permohonan untuk menghilangkan namanya dari film tersebut.

Diciptakanlah nama palsu Alan Smithee untuk para sutradara yang tidak mau mengakui bahwa sebuah film adalah filmnya.

KK Dheeraj bukannya malu dengan salah satu film terburuk— atau mungkin terburuk—dalam sejarah manusia.

Dia malah dengan bangga menambahkan kalimat:

“Film horror yang berbeda dan bermutu.”

…di poster filmnya.

Padahal kenyataannya, tidak ada satu pun kualitas yang bisa dilihat dari film ini yang bisa menghentikan orang waras dari bunuh diri setelah membuatnya.

Kamera handphone Bik Jessika saja bisa menghasilkan gambar yang lebih bagus daripada gambar Genderuwo.

Skenarionya seakan-akan bukan ditulis oleh manusia, tapi oleh hamster. Itu pun setelah hamsternya disiram air panas dan dipotong ekornya.

Sadis, ya?

Tapi ya memang seburuk itu.

Belum lagi artistik dan kostumnya.

Oh my God.

Hamster yang disiram air panas dan dipotong ekornya saja masih lebih enak dilihat ketimbang film ini.

🔴🔵🟢🟡 Definisi Horor Menurut KK Dheeraj

KK Dheeraj berpikir bahwa penggambaran hantu terseram adalah dengan cara men-zoom in dan men-zoom out boneka jelek beberapa kali, lalu mengganti warna layar menjadi merah, biru, hijau, dan kuning setiap kali boneka tadi di-zoom.

Olala.

Orang ini luar biasa naif atau luar biasa kurang ajar?

Luar biasanya lagi, “film” ini seakan-akan diedit menggunakan PowerPoint.

Ruang post-production dan color grading film
Ilustrasi ruang post-production • Image source: Blackmagic Design

Satu adegan hanya di-shoot satu shot.

Kalau butuh close-up, gambar tadi tinggal di-zoom di komputer.

Gambarnya pun jadi kecil sekali pixel-nya, sehingga ujung-ujung gambar berbentuk tangga.

Persis kayak masking yang menutupi penis dan vagina di film-film blue Jepang.

💩 Dari Rating Kancut Menuju Rating Tinja

Lupakan Psikopat yang membuat Sinema Indonesia menciptakan sistem rating kancut.

Film ini membuat Psikopat terlihat seperti film The Godfather.

hampir melahirkan sistem baru
RATING TINJA

Dan kami hampir saja membuat sistem rating tinja.

Tapi paling tidak, film ini sudah menimbulkan rasa nasionalisme yang selama ini tidak pernah terpikirkan oleh kami.

Dengan ini, kami sebagai bagian dari rakyat Indonesia menyatakan keberatan kalau ini disebut buatan Indonesia.

Dan menuntut film ini dicoret dari bagian sejarah perfilman Indonesia.

Write a comment
© 2022 All Rights Reserved.
Email: email Me