BURHAN OWL

0 %
MUHAMMAD BURHANUDDIN RABBANI
Front-end Developer
Ui/UX Designer
  • Residence:
    Indonesia
  • City:
    Surabaya
  • Age:
    35
Indonesia
English
html
CSS
Photoshop
Photography
WordPress
Office
  • Adobe: Photoshop, Illustrator, inDesign, After Effect
  • Luminar
  • Multimedia: Vegas Pro,
  • Google: Spreadsheet, Data Studio, Script
  • Office: Excel, Word, Powerpoint
LENTERA MERAH (2006) - Ulasan Film
Lentera Merah Cover
Ulasan Film Horor Indonesia

Lentera Merah

2006

"Kebenaran Mesti Ditegakkan" — sebuah film yang mencoba menggabungkan teror, slasher, dan isu PKI, namun berakhir menjadi tontonan yang menyakitkan.

Genre Horror / Thriller
Durasi 100 Menit
Sutradara Hanung Bramantyo
Produksi Rapi Films

Pendahuluan

Pada saat ada banyak film-film blockbuster yang worth it buat dibeli tiketnya (MI:3, X-Men 3, Inside Man), kami beri satu alasan untuk nonton film rip-off, murahan, dan superdumb karya sutradara terbaik Indonesia menurut orang-orang cerdas yang tergabung dalam tim juri FFI 2005 ini:

Oke, kami nggak nggak bisa nyari satu alasan pun. Kecuali jika anda ingin mensukseskan kampanye "Tonton Film Indonesia Seberapapun Busuknya".

— Penulis Ulasan

Siapa tau anda bisa dapat pin ber-autograph dari sutradaranya. Mungkin beberapa ratus tahun lagi saat Indonesia sudah waras, pin itu harganya bisa jadi mahal banget sebagai memorabilia betapa sakitnya Indonesia sekarang.

Susah memang mencari sesuatu yang bisa dipuji di Lentera Merah. Membicarakan hal-hal yang jelek dari film ini, however, seperti disuruh mencari pasir di pantai.

DATA KORBAN & KEBODOHAN

Statistik mengerikan dari film yang lebih mengerikan daripada hantunya

65
Tahun Teror
Angka yang selalu muncul di setiap pesan darah
5+
Koran Jiplakan
Film asing yang ide-nya dicuri Hanung
2
Penulis Naskah
Hanung & Ginatri (mungkin alter ego)
100
Menit Penderitaan
Durasi yang terasa seperti selamanya
0
Jumlah Adegan Menakutkan
Hantu kreatif nggak penting
?
Koneksi PKI & Slasher
Tidak nyambung sama sekali

Sinopsis

Lentera Merah bercerita tentang proses inisiasi mirip ospek buat para mahasiswa yang ingin masuk jadi anggota sebuah majalah kampus yang bernama Lentera Merah. Ceritanya, majalah ini adalah majalah tua yang terkenal banget sejak jaman PKI karena selalu dengan berani menyuarakan kebenaran (cieee kebenaraaan…).

Saat prosesi berlangsung, banyak calon anggota yang mati dibunuh hantu kreatif nggak penting yang selalu meninggalkan pesan:

Pesan Berdarah
"65: Kebenaran Mesti Ditegakkan"

...yang ditulis dengan darah para korbannya.

Katalog Jiplakan

Film ini menjadi super-cupu bukan cuma karena Hanung mencuri ide dari banyak film, tapi karena hantunya merupakan jiplakan dari berbagai sumber. Berikut daftar film yang "terinspirasi" oleh Hanung:

Stir of Echoes Sumber ide utama
Ju On: The Grudge Polanya dijiplak
Sadako (Ringu) Karakter hantu
Suster Ngesot Referensi lokal

Hanung mencoba menggabungkan film slasher dengan isu PKI yang pada akhirnya nggak begitu nyambung. Itu namanya pretensius, Baby.

— Kritik Terhadap Sutradara

Sikap Sang Sutradara

Kacaunya, Hanung pasang badan dengan menyalahkan para pemainnya dengan mengatakan mereka stupid. Padahal kalau Hanung mau introspeksi, kebodohan ada di dalam dirinya sendiri.

Adegan Kematian (Yang Gagal Menakutkan)

Skrip yang ditulis Hanung bersama Ginatri S. Noer (kami tidak pernah dengar namanya, mungkin itu elter egonya Hanung juga) dipenuhi dengan dialog-dialog bodoh yang membuat dialog sinetron tidak terdengar terlalu buruk.

Contoh: Lentera Merah katanya berisi orang-orang pilihan dan cerdas, tapi yang keluar dari mulut orang-orang ini semua cemen. Mungkin Hanung harus bikin film art saja. Seenggaknya kalo ada yang absurd, dia bisa ngeles "ah, itu anda saja yang tidak mengerti maksud saya."

Kalau film horror, jelas kami yang awam dan bodoh pun tau bahwa film horror tujuannya untuk menakut-nakuti penonton. Tapi, apa bisa penonton takut ngeliat ada tokoh yang matinya begini:

Ditusuk Kartu Remi

Korban mati ditusuk-tusuk menggunakan kartu remi. Sangat kreatif... tapi tidak menakutkan sama sekali.

Ditusuk Pensil Mainan

Mati karena ditusuk pensil yang di ujungnya ada mainan berbentuk sapi (mungkin) yang terus goyang-goyang.

Poster Film

Poster Lentera Merah 2006

Poster Editan film Lentera Merah (2006)

Kesimpulan

Dengan Jomblo, Hanung masih bisa got away with the crime karena memang sense of humor orang berbeda-beda. Kami rasa sulit baginya untuk lolos kali ini.

Kalau pun dia berhasil lolos, kami yakin suatu hari orang akan bisa melihat yang sebenarnya, mengingat produktifitas sutradara kita satu ini yang lumayan tinggi. Kebenaran memang mesti ditegakkan.

Kebenaran yang kami tau adalah he sucks, big time.

— Putusan Akhir
Putusan Akhir
F

"Tonton Film Indonesia Seberapapun Busuknya" — tapi mungkin film ini adalah batasnya.

  Tayang Tahun 2006  

Kredit Film

Video Transfer 35mm
Warna Warna
Durasi 100 menit
Sutradara Hanung Bramantyo
Penulis Hanung Bramantyo &
Ginatri S. Noer
Sinematografi Robby Herbi
Art Allan Sebastian
Editor Andi Pulung
Musik Wiwiex Soedarno
Produser Soebagio S &
Gope T. Samtani
Produksi Rapi Films
Pemain Laudya Cynthia Bella
Dimas Beck
Firina
Teuku Wisnu
Tesadesrada Ryza
Fikri Ramdhan
35mm Warna 100 Menit Rapi Films
Write a comment
© 2022 All Rights Reserved.
Email: email Me