BURHAN OWL

0 %
MUHAMMAD BURHANUDDIN RABBANI
Front-end Developer
Ui/UX Designer
  • Residence:
    Indonesia
  • City:
    Surabaya
  • Age:
    35
Indonesia
English
html
CSS
Photoshop
Photography
WordPress
Office
  • Adobe: Photoshop, Illustrator, inDesign, After Effect
  • Luminar
  • Multimedia: Vegas Pro,
  • Google: Spreadsheet, Data Studio, Script
  • Office: Excel, Word, Powerpoint

RUMAH PONDOK INDAH

Review Film Horor Indonesia
Poster Rumah Pondok Indah

Yang sering bilang kalau bikin film itu susah adalah pembohong. Pembohong pembohong pembohong.

Film production

Liat aja Rumah Pondok Indah. Di-syuting dengan murah pake video dengan para pemain yang memang sudah keliatan serem seperti Ruhut Sitompul dan Titi Qadarsih (mungkin buat ngemat make-up) di hanya satu lokasi. Memang banyak film luar yang cuman di-syut di satu lokasi kayak Cube, dua pertiga dari film Saw, dan banyak lagi. Tapi para filmmakernya bekerja keras muter otak buat bikin skrip yang cerdas dan para pemainnya bekerja keras supaya bisa nampilin akting yang cemerlang. Tapi kita nggak bisa bilang gitu tentang Rumah Pondok Indah.

Movie camera

Yang bisa dicatat dari film ini adalah kesadaran para produsernya, film seperti apa yang mereka buat, siapa target penonton mereka. Jika anda menganggap diri anda penonton film berkualitas dan anda datang ke bioskop untuk nonton film ini, anda nggak berhak untuk marah-marah. Posternya saja udah jelas bilang: “Cuman buat penggemar film sampah ajah”. Untuk ini, saya ngucapin terima kasih ke produsernya karena banyak film Indonesia yang berhasil mengelabui penonton dengan menutupi film busuk dengan poster art yang keren.

Cinema audience

Rumah Pondok Indah juga nggak berusaha untuk terlihat lebih berkelas dari yang sebenernya. Nggak ada editing sok stylish seperti Psikopat atau semua film Koya Pagayo, atau fast-motion nggak makna seperti di Jomblo, nggak ada usaha buat ngebungkus produk jelek dengan ngeluarin Original Soundtrack (karena music score-nya juga dicomot entah dari film India mana). Yang penting, Rumah Pondok Indah ngasih apa yang dimau target audience-nya: pemunculan hantu yang banyak. Kayaknya semua tokoh di film ini akhirnya jadi hantu kecuali yang memang udah nakutin tadi. Filmnya sadar kalau target audience-nya nggak cukup cerdas buat memikirkan plotnya. Makanya keseluruhan cerita, bahkan termasuk twist-nya mereka ceritain semua di sinopsis. Untuk ini, kami rela mengurangi tiga kancut dari rating awal Rumah Pondok Indah menjadi:

INFografis Review

Atmosfer Horor

Kualitas Cerita

Jumlah Elemen Horor

Kesadaran Target Pasar

Haunted house

Sekarang pertanyaannya, salah nggak sih kalo produser film tetep bikin film-film kayak Rumah Pondok Indah? Salah nggak kalau mereka mikir: “Ngapain repot-repot bikin film bagus kalo film kayak Brownies aja bisa bikin sutradaranya dapet piala (apa tuh namanya lupa)?” Menurut saya sih, mereka nggak salah. Siapa yang salah? Tau ah. (Nanda Meilani)

Write a comment
© 2022 All Rights Reserved.
Email: email Me